Aku dan berbagai cerita di sekitarku

Percakapanku dengan mas awan kemarin malam membuatku berpikir lagi. Bukan hanya tentang masalah RS, tapi juga masalah orang-orang yang ada di “sana”. Ternyata,…orang yang selama ini aku anggap teman baik, aku anggap saudara bisa seperti itu. Yah, setidaknya aku sudah tahu yang sebenarnya.

Bersyukur juga sih, udah ditunjukkin mana teman yang benar-benar baik dan mana yang bukan. Allah sepertinya masih berbelas kasih padaku.

Anyway, kalau dipikir,..sudah lama juga kita gak ngobrol selama itu. Telponan selama hampir 2 jam. Dari membahas masalah percintaan, sahabat, sampai jam tangan. Hal-hal yang gak penting pun ikutan dibahas. Kalau kata dia “gw tuh kalau sama lo bisa ngomong banyak banget tanpa keabisan bahan pembicaraan. Ada aja yang diomongin sampe hal yang gak penting pun bisa diomongin” hahaha.

Dan satu yang bikin aku ngakak gak brenti waktu dia bahas cewe yang dia suka trus aku nanya “kok kamu gak suka sama aku mas? kan kita deket banget dulu” — “LO KAN ADEK GW. LO GAK SUKA AMA GW. LO UDAH NGE BLACKLIST GW DARI AWAL”. hahahahahahaha sumpah ini kocak!!! hahahaha.

Alhamdulillah,..bisa dibikin gak sumpek untuk sesaat >.<

Aku rindu–

Aku rindu berbahagia denganmu. Aku rindu berbahagia dengan orang sekitarku. Aku rindu senja yang rupawan, juga senyumku yang selalu mengembang tiap melihat senja. Sungguh, aku teramat sangat merindukannya.

When two strangers get to know each other, an intersection of emotions forms between them. And when they least expect it, it becomes invisible to the two people. At the time, they don’t even realize that it can throw them into an unexpected state of confusion πŸ™‚

Le Friend

Hestri Dyah Puspitasari – beautiful picolo (yes, just because she has unique ear lol).

– Salah satu teman terbaikku sejak aku SMP. Teman yang sudah “dirasa” akan menjadi teman baik selamanya sejak pertama kali melihat dia. 

How can???

Gaaa tauuuu!! hahaha

Jadi, pertama kita ketemu itu waktu daftar kelas imersi di SMP 4 Solo. Nah, dari situ aku udah merasa kalau “wah ini bakal jadi temenku nih”. Tapi kenyataannya kita sama-sama gak diterima disitu wkwkwk.

Lalu, kita ketemu lagi waktu test tertulis di SMP 9 Solo. Aku masih inget dulu dia duduk di depan, sedangkan aku di belakang (tempat duduk berdasar nama) *dengan gaya rambutku yang dikepang*. Waktu itu aku mikir “ini bukannya cewe yang dulu pernah ketemu di SMP 4 ya??”. Yah, sekedar mikir gitu, tapi gak tanya ke orangnya langsung. 

Setelah pengumuman, ajaibnya kita dipertemukan lagi …SATU KELAS!! hahahha. Jodoh memang gak kemana. Termasuk jodoh pertemanan ini. Dari awal masuk, dan kenalan kita udah akrab banget kayak udah lama kenal. Sering telfonan dan curhat (padahal baru kenal). Sering main kerumah juga (gantian). Dan ribuan keabsurd’an kita yang gak bisa dijelaskan disini. Intinya, kita langsung “klik”.

“Kalau berteman, jangan lupa jadikan keluarga temanmu jadi keluargamu juga!”

Dan itulah yang selama ini aku lakukan. Sadar atau enggak, ketika aku berteman baik dengan seseorang dan bakalan awet, ciri2nya adalah : Memes dekat banget dengan keluarga temennya itu. Dan salah satu contohnya ya dengan orang ini wkwkwk