Rindu-Senja-Pelangi

Kali ini, aku rindu..jujur ku katakan. Ini rindu yang tidak masuk dalam kadar cinta atau sayang atau sejenisnya. Ini rindu akan sebuah obrolan yang nyaman dan bahasan yang sama-sama kita tau. Mungkin aku juga rindu akan cantiknya senja yang beberapa waktu tidak muncul atau pelangi yang entah kapan datang lagi menyapa bumi.

Pasar Kaget Benhil

Beberapa hari ini, pekerjaan di kantor gak ada yang dateng sama sekali. Gak kaya waktu beberapa waktu yang lalu. Bulan puasa gini kebanyakan “nganggur” nya, dan jujur aja kadang bete juga kalo gak ada kerjaan yang dipegang.
Saking betenya, aku iseng deh nyari info tentang jajanan takjil di Jakarta. Memang sih, sebenernya banyak banget penjaja makanan di pinggir jalan di bulan puasa kayak gini. Tapi ekspektasiku tuh, jajanan takjik ya jajanan yang banyak banget macemnya. Gak cuma gorengan dan minuman manis doang (karena mostly penjaja makanan di pinggir jalan jualannya cuma gorengan + minuman manis). Aku inget banget, waktu masih di Solo aku pernah liat tayangan berita di tv yang menampilkan pusat kuliner takjil gitu di Jakarta. Dan yang jual banyaaaak!! Udah kayak bazar makanan gitu. Dan itu yang aku cari. 
Setelah tanya-tanya sama temen kantor dan googling, dapetlah kesimpulan kalau mau jajan takjil yang lengkap ya di Benhil, ini udah terkenal banget. How to get there? ini yang bikin aku mayan berpikir. Masalahnya aku tau, daerah menuju Benhil itu macet banget. Kalau mau naik busway bingung juga nanti ke lokasinya gimana karena belum pernah kesana. Dan pada dasarnya aku anaknya random banget, pas udah tau jalan ke pasarnya langsung pengen cabut aja hari itu juga. Ngajakin temen gak ada yang mau, alhasil ya….harus sendiri. Awalnya aku sempat mengurungkan niat buat gak ke Benhil hari itu juga, bisa kali lain waktu barengan temen kantor yang emang pengen juga tapi bisanya minggu depan, sedangkan aku maunya hari ini (ngidam buuu?? -_-). Ya udah deh, aku mikirnya “nanti gampang deh, kalo niat jalan ya berangkat, kalo engga ya besok aja. Sendiri gapapa lah”. Eh, pas banget jam pulang aku baru inget kalau punya temen yang ngekos daerah situ, si Putri Anjatsari, temen SMA ku. Langsung lah aku cari tau detailnya ke Putri dan pada akhirnya dia mau nemenin aku nyari takjil, tapi dengan ucapan “Kemaren aku abis kesana, tapo ternyata biasa aja” ­čśÉ okelah, ya mungkin menurut Putri biasa, menurutku luwar biyasa (sumpah lebaaay).
Udah deh itu aku akhirnya pesen ojol buat ke kosan Putri. Dan tebakanku bener, macet bangeeeet!!!! hampir sejam aku menuju kosnya. Setelah sampai kita langsung menuju lokasi buat nyari takjil. Sebenernya sepanjang perjalanan dari kosan ke lokasi juga banyak penjaja makanan di pinggir jalan, dan gak hanya gorengan aja, kali ini banyak banget macemnya. Tapi aku meyakinkan diri sendiri kalau aku harus beli yang di Benhil aja, jangan yang disitu. Orang tujuannya ke pasar kaget Benhil, masaau beli yang di pimggir jalan gitu aja. Rugi ongkos dan waktu dong wkwkwk. Setelah sampai lokasi…ternyata tempatnya gak seluas yang aku bayangin. Penjualnya pun gak sebanyak yang aku bayangin. Setelah keliling-bingung-keliling lagi-bingung lagi, akhirnya aku memutuskan buat beli jenang ketan hitam dan kacang ijo (awal yang manis untuk akhir yang manis wkwkwk). Setelah itu beli gorengan (risol) dan bakcang (Putri yang beli ini). Sebenarnya aku pengen banget beli kue lapis, lupis, kue talam dll, tapi takut rasanya gak enak. Dan mau beli ikan bakar kok ya harganya mahal, padahal aku anaknya gampang laper tp g bisa sekaligus makan banyak. Akhirnya aku memutuskan untuk beli itu aja dan pengen beli mendoan di jalan yang kita lewatin tadi (update: gak jadi beli mendoan karena gak nemu). 
Gimana rasanya ke Pasar Kaget Benhil? Seneng sih bisa ngabuburit, tapi ternyata semua biasa ajah. Bahkan makanannya pun so-so. Gak ada yang enak banget! Kacang ijo yang aku beli sungguh…gak enak sama sekali!!! Bau apeg…tau apeg lan? Kalau ketan hitamnya juga biasa aja. Semua makanan yang aku beli rasanya biasa banget. Kecewa sih karena udah berekspektasi yang tinggi, cuman ya gak ada salahnya nyobain. Kalau belum nyoba siapa yang tau kalau itu enak apa engga, tempatnya enak apa gak dll. Kapok kesana? Jujur iya. Tapi kalau dimintain buat nemenin doang mah ayo aja wkwk. 

Suasana di Pasar Kaget Benhil

Wisata ke Galeri Seni di Jakarta Selatan

Jakarta dengan segala seni yang ada di dalamnya. Aku sendiri penikmat seni, baik itu seni musik, film, gambar, patung dll. Dan mengunjungi galeri seni atau artspace atau apalah itu disebutnya, merupakan kegiatan yang seru dan menyenangkan bagiku. 

1. Dia.Lo.Gue Artspace

Merupakan tempat pameran juga kafe yang berada di Kemang, Jakarta Selatan. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi lumayan cozy untuk sekedar ngopi bersama teman. Kali ini aku datang kesini dalam rangka mengunjungi pameran “Manusia Kuat” karya Tulus dan Adhitya Himawan. Acara berlangsung dari tanggal 23 Mei 2017 – 11 Juni 2017. Disini ditampilkan sosok-sosok yang menurut Tulus merupakan sosok Manusia Kuat


itulah beberapa sosok Manusia Kuat yang aku abadikan. Masih banyak lagi sebenarnya.

2. Mitra Hadiprana Art Gallery

Aku mengunjungi tempat ini juga karena iseng setelah googling ada galeri seni apa saja di Jaksel ini. Galeri ini jadi satu dengan boutique mall gitu. Jadi gak cuman gallery aja. Tempatnya juga gak terlalu jauh dari Dia.Lo.Gue, yaa sekitar 10 menit lah. Dan waktu aku kesana memang sepi banget. Gak ada pengunjung sama sekali.



Ngonser “Tulus”

Tulus. Muhammad Tulus Rusydi. Seorang penyanyi yang menginspirasiku. Karyanya yang unik benar-benar bisa menarik perhatianku untuk lebih dalam mengenalnya. Tulus panggilannya. Dia berperawakan tinggi besar, aku mungkin hanya se dada nya saja apabila sedang bersanding disampingnya (iriiiii…pengen tinggi). Tulus, seorang yang hangat, ramah, murah senyum dan humoris. Terkadang konyol juga.

Beberapa kali sempat bertemu dan mengobrol dengannya sewaktu masih di Solo dan Jogja, sungguh…dia benar-benar baik. Dengan segala tingkah kita, (Teman Tulus Jogja) dia meladeni dengan lucu pula.

Setelah memutuskan hiatus nonton konser untuk beberapa waktu, akhirnya hari ini aku nonton penampilannya Tulus lagi. Tepatnya di Plangi Sky Dining, Plaza Semanggi. Dengan membayar voucher makan senilai 50k, kita bisa melihat Tulus dan membeli makanan yang sudah tersedia di dalam.


Selain itu, tadi aku bertemu dengan beberapa Teman Tulus Jakarta. Bahagia banget bisa menjalin silaturahmi dengan orang baru. Semoga bisa terus bersilaturahmi.

FILM “ZIARAH”

poster-ZIARAH-small-size

Ziarah, sebuah film layar lebar pertama karya BW Purba Negara yang merupakan film maker asal Yogyakarta. Sebelumnya memang BW Purba Negara ini sudah menghasilkan beberapa film pendek seperti Kamu di Kanan Aku Senang (2013), Bermula dari A (2011), Cheng Cheng Po (2007), Musafir (2008), Digdaya Ing Bebaya (2014) dan masih banyak lagi.

Film ziarah bercerita tentang perjalanan Mbah Sri dalam mencari makam suaminya yang hilang semasa Agresi Militer Belanda II pada tahun 1949. Tujuannya agar kelak Mbah Sri dapat dimakamkan bersanding dengan makam suaminya. Film ini tidak hanya mengusung tema percintaan, akan tetapi juga kesabaran dan pengorbanan. Pengorbanan demi cinta dan demi tanah air. Dalam film ini, dapat disaksikan bahwa cinta tak hanya milik kaum muda saja, tapi yang tua pun juga masih punya cinta di dalam hati mereka. Cinta yang tak lekang oleh waktu. Kepercayaan akan cinta juga yang membuat Mbah Sri bertekad untuk mencari makam suaminya yang entah ada dimana. Perjalanan Mbah Sri tidaklah mudah, dengan kondisi Mbah Sri yang tua renta seperti itu, beliau masih harus menempuh perjalanan jauh, berjalan kaki bahkan tertidur di makam pun pernah.

Secara keseluruhan, menurut saya film ini sudah sangat apik. Saya, sebagai orang yang tidak terlalu suka menonton sebuah film dapat menyatakan kalau film itu bagus. Bahkan saya trenyuh saat Mbah Sri menceritakan alasan kenapa dia mencari makam suaminya itu. Sungguh, cinta untuk Mbah Pawiro Sahid dari Mbah Sri ini besar sekali. Cinta yang benar tulus adanya.

Ending film ini, saya masih belum bisa meraba maksud yang tersimpan di dalamnya. Saya masih sedikit bingung dengan endingnya (mungkin harus nonton sekali lagi dan ditemani oleh seseorang yang dapat bertukar pikiran dengan saya hehehe..).

Berikut saya tampilkan cuplikan dari film Ziarah: (sumber google).

still-image-ZIARAH-c

Mbah Sri dalam perjalanan mencari makam suaminya

still-image-ZIARAH-e

FYI: Film Ziarah ini hanya dapat disaksikan di XXI Taman Ismail Marzuki (Jakarta Pusat) dan XXI Blok M (Jakarta Selatan).

Aku dan berbagai cerita di sekitarku

Percakapanku dengan mas awan kemarin malam membuatku berpikir lagi. Bukan hanya tentang masalah RS, tapi juga masalah orang-orang yang ada di “sana”. Ternyata,…orang yang selama ini aku anggap teman baik, aku anggap saudara bisa seperti itu. Yah, setidaknya aku sudah tahu yang sebenarnya.

Bersyukur juga sih, udah ditunjukkin mana teman yang benar-benar baik dan mana yang bukan. Allah sepertinya masih berbelas kasih padaku.

Anyway, kalau dipikir,..sudah lama juga kita gak ngobrol selama itu. Telponan selama hampir 2 jam. Dari membahas masalah percintaan, sahabat, sampai jam tangan. Hal-hal yang gak penting pun ikutan dibahas. Kalau kata dia “gw tuh kalau sama lo bisa ngomong banyak banget tanpa keabisan bahan pembicaraan. Ada aja yang diomongin sampe hal yang gak penting pun bisa diomongin” hahaha.

Dan satu yang bikin aku ngakak gak brenti waktu dia bahas cewe yang dia suka trus aku nanya “kok kamu gak suka sama aku mas? kan kita deket banget dulu” — “LO KAN ADEK GW. LO GAK SUKA AMA GW. LO UDAH NGE BLACKLIST GW DARI AWAL”. hahahahahahaha sumpah ini kocak!!! hahahaha.

Alhamdulillah,..bisa dibikin gak sumpek untuk sesaat >.<